Tuesday, May 15, 2018

0 Lilin Perdamaian Untuk Indonesia


 

Hubbul wathan minal iman. Cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman”. Demikian kata Kiyai Wahab Chasbullah dalam nasihatnya kepada santri-santrinya. 

PS3M/Rusdi; Anak-anak Muslim yang sedang mengikuti aksi solidaritas untuk Korban Terorisme di Surabaya
Mengapa demikian? Kita ini lahir di Nusantara. Makan dari hasil bumi yang di tumbuhkan di bumi Nusantara. Minum air yang dihasilkan pegunungan di Nusantara. Mencari ikan dari lautan di  Nusantara. Hidup rukun dan damai di Nusantara. Lalu, bagaimana bisa kita tidak mencintai negeri ini dan menjaganya? 

Menjaga negeri ini, adalah upaya orang-orang Nusantara untuk mensyukuri Nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Nikmat tanah yang kaya dan subur. Dengan berbagai macam suku yang hidup rukun dan damai. Lalu, mengapa merusaknya dengan tindakan terorisme? 

Dalam sudut pandang pesantren, yang merupakan lembaga pendidikan tertua di Nusantara yang masih eksis hingga hari ini, sering mengajarkan bagaimana menjadi orang Nusantara yang beragama Islam. Jadi, sifat unggulan yang harus di miliki oleh santri Nusantara adalah adaptif, fleksibel, toleran (saling menghargai dan menghormati), multikulutural (menghimpun beragam ekspresi budaya masyarakat), guyub, kolektif, mengedepankan tauladan, sopan-santun dan beradab, saling membantu dan menolong, serta gotong-royong.

Beragama seperti Parasit. 

Anda sudah sering mendengar dan bahkan melihat sendiri bahwa para teroris itu membawa label “Islam” dalam aksi mereka. Maka, dalam kesempatan ini, kami mengatakan bahwa Islam-Nya itu ibarat tanaman parasit atau benalu yang merusak dan mematikan “tanaman” kerabatnya.
Sebagai parasit, mereka menggunakan “Islam” sebagai “pohon induk” lalu mengakibatkan ‘Pohon Induk” itu mengalami kekurangan energi dan akhirnya mati. 

PS3M/Rusdi; Peserta Aksi Solidaritas, Lawan Terorisme. Lokasi, Depan Gereja Sentrum Manado
Fenomena “Parasitisme” dalam beragama tersebut secara akademik dapat dilihat dalam dua konsepsi;
Pertama, karena kepercayaan itu berhubungan instrinsik dengan ideologi, yang memungkinkan kepercayaan itu dimanipulasi, dibuat nyata, dihadirkan atau direpresentasikan sebagai “yang benar”, meski ia pada kenyataannya tidak benar. Jika kepercayaan erat kaitannya dengan ideologi, maka keimanan tidak demikian; keimanan adalah suatu aktualisasi yang non-ideologis, karena ia didasarkan pada pengetahuan atas apa yang menjadi objek kepercayaannya sedemikian rupa, sehingga membebaskannya dari representasi palsu kebenaran yang diyakininya. 

Dilihat dari sudut pandang ini, maka fanatisme adalah produk dari kepercayaan, bukan keimanan. Ungkapan fanatisme beragama terdengar kacau (redundan), karena denotasi yang ditunjuk ungkapan ini adalah fanatisme kepercayaan yang berbalut agama, dan hal itu bersifat ideologis. Fanatisme, dengan demikian tidak mungkin lahir dari keimanan, melainkan hasil “sublimasi” kepercayaan dan ideologi. Fanatisme beragama adalah fenomena manipulasi aspek kepercayaan dalam agama oleh ideologi, tetapi ia “Bukan Iman Itu sendiri”. 

Suatu keimanan tidak dapat menjadi fanatik, karena ia merupakan ekspresi “kebutuhan untuk percaya” yang holistik dan telah utuh pada dirinya. Keimanan menjadi identik dengan religiusitas atau fitrah keberagamaan; Konsepsi manusia sebagai homo religius terletak di sini. 

Kedua, baik kepercayaan maupun keimanan sama-sama memiliki potensi Fanatisme. Fanatisme dinilai sebagai properti internal dalam iman, yang potensial (iman juga dapat menjadi gila dan melahirkan kaum fanatik). Pandangan ini menghindari jebakan idealisasi keimanan sebagai yang murni, yang suci, seutuhnya terbebas dari potensi inheren untuk melakukan penyimpangan. Di dalam keimanan itu sendiri, sudah selalu terdapat benih atau potensi fanatisme, yang membuat keimanan itu menjadi “gila”. 

Dinyatakan dalam ungkapan eksistensialik Kiekegaardian; di dalam keimanan sudah selalu terdapat potensi bagi seorang pengiman untuk mengalami lompatan ke seberang, suatu pengalaman eksesif, kegilaan yang mengubah Altaritas. Kelainan, menjadi Altaritas, Altar Pengkorbanan, suatu pengalaman yang, menurut Kierkegaard, “Pengalaman Etikal”,dan memungkinkan sang pengiman menjadi seorang “kriminal” (outlaw).

Di dalam lompatan melanggar perbatasan ini, seorang pengiman dapat menjadi seorang kudus, karena persinggungan keimanan dengan kekerasan yang membuatnya di cap secara sosial sebagai Teroris namun secara religius sebagai “Bomber”. Posisi ini kelak akan “membaptis” pembunuh sebagai orang suci, atau orang suci sebagai pembunuh. 

Inilah cara beragama yang kami sebut “Parasitisme”. Yakni beragama seperti cara kerja parasit; Menandai keimanan diri sendiri dengan Maniak, hasrat dan fanatisme yang berujung pada “tindakan kriminal”. 

Aksi kekerasan atas nama agama hingga Tragedi Bom gereja di Surabaya menunjukkan kepada kita bagaimana “keyakinan parasit” tersebut bekerja. 

Jihad Melawan Parasitisme Agama. 

 Senin Malam, tanggal 14 Mei 2018, bertempat di depan Gereja Sentrum Manado, GP. Ansor Manado di bawah pimpinan Rusli Umar bersama-sama 51 organisasi kemasyarakatan lintas agama di sulawesi utara, turut menyuarakan “kecaman” terhadap tindak terorisme, termasuk siapapun yang berani mengganggu NKRI dan kerukunan di Sulawesi Utara khususnya. Sebagai warga NU dan tentu sebagai warga negara Indonesia, seseorang tentu tidak boleh berfikir untuk memutus kesejarahan dan kepahlawanan komunitas pesantren dalam pergerakan mereka mendirikan dan membangun negeri ini. Karenanya, segala bentuk upaya untuk memecah belah NKRI dan mengacaukan kerukunan di Indonesia, khusunya di sulawesi Utara, harus di lawan. 

Bagaimana cara melawan mereka? Bagi kami, Ini menjadi “pekerjaan rumah” IAIN Manado pada level pengetahuan ke-Islaman, dimana perlu ada pendidikan keagamaan berdasarkan wawasan Nusantara. Dalam ranah pengetahuan Islam misalnya, umat Islam perlu mencontoh pesantren yang merupakan wujud kultural Islam, yang setiap hari menubuhkan praksis keislaman tidak sekedar pada gelora ideologis, melainkan laku tradisional kultural. Dengan mempelajari hal ini, generasi Indonesia di masa mendatang dapat mengetahui Islam yang lain, yang berbeda dengan wajah “Islam Marah”. Dalam hal ini, yang muncul tak semata “wajah agama” tapi lebih berupa “wajah ideologi”, meski ideologi berlambang sentimen keagamaan. Lewat pengenalan akan hal ini, generasi bangsa akan memahami bahwa agama tidak harus dipertentangkan dengan sistem sosio-politik yang ada. Sebab, melampaui hal itu, agama ternyata sudah membatin dalam “kenyamanan kultural” yang membuat para pemeluknya tenteram, hidup dalam rengkuhan keagamaan keseharian. Maka, IAIN Manado sebagai satu-satunya perguruan tinggi Islam di sulawesi utara harus mampu menjawab tantangan-tantangan tersebut. 


(Penulis; Abdul Muis)

0 comments:

Post a Comment

Google+ Followers

 

Berita Seputar Masyarakat Muslim di MINAHASA Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates